Archive for the ‘My Stories’ Category

Chapter 3. Dimana ya?

Sunday, September 20th, 2009

“Vi temenin mama belanja yuk.” Mama menarik buku kimiaku.

“Mama…. bentar lagi vivi ada olimpiade kimia nih, harus belajar.”

“Sekali-kali refreshinglah Vi. Ayo donk temenin mama, kamukan udah lama gak shopping bareng mama.” Aku berpikir sejenak. Ya juga, sejak masuk SMA aku jadi jarang shopping sama mama. Kalo gak hang out sama temen2, aku pasti lagi baca buku kimia. Cita-citaku jadi apoteker sih.

“Ya udah, ayo pergi ma.” Aku berdiri

“Ganti baju dulu donk sayang. Kita kan juga pergi sama temen mama dan anak laki-lakinya. Masa baju kamu kayak gitu?Pake rok sana.” Mama mendorongku menuju kamar lalu mengutak-atik lemari bajuku.

“Duh… kenapa sih anak perempuan mama satu-satunya pakaiannya jeans semua. Nah ini dia. Pakai yang ini aja.” Mama memilihkan baju terusan bewarna putih kebiru-biruan, hadiah ulang tahunku dari mama tahun lalu.

“Tapi ma itu terlalu pendek, kalo gerak gak bebas. Anak zaman sekarang lebih suka pake jeans”

“Akh enggak pendek2 amat kq Vi. Masa kamu gak mau pake baju dari mama?” Ucap mamaku, membuatku jadi tdk enak. Akhirnya aku memakai baju itu juga. Kemudian mama menyisir rambutku, mengikatnya setengah dan memberinya pita bewarna biru muda.

“Nah kalo gini cantik kan?” Ucap mamaku puas. Cuma mau ke mall aja ribet bgt sih kayak mau ke ultah tmn aja. Ya… tapi gak ada jeleknya juga sih, aku jadi keliatan lebih feminim. He3x….

“Makasih ya ma.” Mamaku tersenyum. Kemudian kami berangkat menuju mall. Setibanya disana mama buru-buru menuju tempat janjian mama dan temannya. Kami terlambat 15menit. Hm…. Seperti apa ya anak teman mama?? Jadi penasaran juga.

Sesampainya di sana, mama mencari-cari temannya dan menemukannya duduk di bangku paling pojok dengan anak cowoknya. Aku terkejut, anak cowok itu sepertinya pernah aku temui sebelumnya. Tapi dimana ya?

“Sori Jeng telat. Wah maaf ya Vid tante telat” Aku mengikuti mamaku duduk di depan mereka dan posisiku sekarang persis di depan cowok itu.

“Akh gak apa-apa kq tante.” Dibarengi oleh senyum cowok itu.

“Oh ya jeng ini anak saya Vivi.”

“Siang tante.” Aku tersenyum.

“Duh jeng anaknya cantik sekali. Panggil aja tante, tante Ani ya Vi” Ucap tante Ani ramah. “Vid kenalan donk sama anaknya tante Ira.” Cowok itu mengulurkan tangannya kepadaku.

“David.” Ia tersenyum kecil kepadaku. Kemudian kami bersalaman.

“Vivi.” Ucapku. Setelah itu kami memesan makanan. Mama dan tante Ani berbincang-bincang ria sedangkan aku dan David gak tau mau ngomong apa.

“Oh ya Vivi…. David ini 1 sekolah sama kamu. Tapi sepertinya kalian gak pernah 1 kelas.”Ucap tante Ani. Hm… apa karena itu ya aku merasa pernah melihat cowok ini.

“Wah kalo gitu, bagus donk. Kita belanja berdua aja bareng jeng. Biar anak-anak muda sm anak muda aja.” Hah? Apa kata mama? Kq kesannya jadi kayak perjodohan aja.

“Ya betul juga. Vid… kamu temenin Vivi belanja kalo gak kalian main ato nonton aja.” David mengiyakan mamanya. What?? Kesannya kayak ngedate donk. Kalo sama si Evan sih oke tapi sama cowok yang baru kukenal? Oh my God!!!

Akhirnya, Kamipun berpisah gengan mama dan tante Ani dan janjian ketemu di tempat makan jam 6 malam nanti. 4 jam lagi!!! Waduh aku harus ngapain nih?  Udah gitu gak tahu harus ngomong apa lagi.

“Rasanya aku pernah ngeliat kamu. Tapi dimana ya?” David tiba-tiba bersuara. Hah? Kq sama?

“Ng… mungkin karena kita 1 skola kali ya. Mungkin aja kita pernah ketemu di kantin ato di parkiran.”

“Hm… bisa jadi. Ng… kamu mau kemana skrg?”

“Ke toko buku aja.” Akhirnya kami ke toko buku. Di sana aku mencari2 novel terbaru, tenggelam dalam kesibukanku sedangkan David mengikutiku tanpa suara. Terkadang melihat buku yang aku liat tapi kemudian mengikutiku lagi. Setelah memilih 2 buku novel (menghabiskan waktu 1 jam lho!) aku menuju kasir. Baru aku mau mengeluarkan dompetku dari tas tiba2 David menyodorkan uangnya ke kasir membuatku terkejut. Dia juga membawakan bukuku keluar dari toko buku dan memberikannya padaku.

“Ng…. Thanks. Ini uang novelku tadi.” Aku menyodorkan uangku tapi David menolak.

“Gak usah. Hari ini aku yang traktir.” Aku berusaha menolak

“Hari ini kamu membuatku mengingat sesuatu dan aku senang. Jadi anggap aja hari ini aku yang traktir.” Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya aku menurut juga.

Masih sisa 3 jam…. Ngapain ya? Aku berdiri mematung. Tiba-tiba David berjalan ke arah lift, akupun mengikutinya. Ternyata ia mengajakku ke bioskop, tanpa berkata apa-apa ia membeli tiket yang akan main 15 menit lagi. Ia berjalan lagi, aku mengikutinya. Ternyata kali ini ia membelikan 2 popcorn dan 2 coke.

“Thanks.” Ucapku. Dia gak begitu banyak omong. Tapi aku gak suka atmosfer ini. Aku berusaha memancingnya bicara tapi jawabannya selalu singkat. Bikin kesel aja. Walaupun Cuma 15 menit tapi jadi serasa 1jam.

Setelah keheningan yang cukup lama tiba-tiba David bicara,“Sori kalo km merasa gak enak jalan sama aku. Aku gak begitu bisa ngomong kl bukan ma temen dktku.” Akupun tersenyum ke arahnya. Untung dia nyadar.

“Gak apa-apa kq. Aku juga gitu.” Hmph… aku tertawa dalam hati. Sepertinya dia orang yang baik tapi cuma sedikit malu-malu aja. (Tapi apanya yang aku jg gt?? Si Vivi kan cerewet!!!)

Akhirnya filmnya dimulai juga. Kami duduk bersebelahan, menonton bersama. Hm… kl dipikir, ini rasanya kayak kencan aja. Tiba-tiba aku jadi malu. Ah…. Aku melengos…. Sayang bukan sama Evan. Aku jadi gak konsentrasi sama filmnya dan memikirkan Evan. Kira2 dia sedang apa ya sekarang? Tiba2 David tertawa mengejutkanku! Aku menoleh ke arahnya yang serius menonton. Dia terlihat lebih ramah kl ketawa. Akupun tersenyum sendiri. Sudah ah…. Lebih baik aku juga berkonsentrasi sama film ini juga.

Filmnya berakhir tepat pukul 5.40, kamipun segera keluar dari bioskop dan menuju ke tempat yang telah dijanjikan. Disana mama dan tante Ani telah menunggu kami dan kamipun makan malam bersama. Setelah makan malam, kami menuju ke arah pintu keluar sambil tetap mengobrol ceria

“Waduh saya senang banget hari ini jeng. Kapan2 kita jalan2 brg lagi ya?”Mamaku mengiyakan.

“Tante kami pulang dulu.” Ucapku kepada tante Ani setelah taxi yang kami tunggu datang. Tante Anipun tersenyum ramah ke arahku. Mamaku telah masuk duluan ke dalam taxi. Sesaat sebelum aku membuka pintu taxi tiba-tiba David membukakannya untukku.

“Thanks hari ini. Udah lama aku gak jalan-jalan.” Ucap David sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.

“Makasih juga.” Ucapku sambil masuk ke dalam taxi. Kedua orang tua kami tersenyum2 spt punya maksud. Ya sudahlah, toh aku cuma menganggap David teman.

Fuh…. Aku memandang langit dari jendela mobil. Tak ada bintang yang bisa dilihat, setidaknya di Jakarta ini. Aku menghela napas mengingat kejadian hari ini. Ya…. Hari ini aku mendapat teman baru walaupun sifatnya agak aneh dan gak terlalu banyak omong tp dia org yg baik dan aku senang melihat senyumnya. I wonder why he act like that.  Aku tersenyum memikirkan hari esok dan berharap esok lebih baik dari hari ini.

The End Chapter 3

Chapter 2. Hari yang Cerah

Friday, September 18th, 2009

Hari ini cuaca agak mendung, udara terasa lembab. Aku memasuki kelas sambil menarik napas dalam-dalam.

“Eh…….. Si Vivi dah dateng tuh Van.” Johan, teman sekelasku dan sekaligus teman dekat Evan menyenggol Evan yang kemudian menoleh ke arahku.

“Yo! Akhirnya nyampe sekolah jg.” Evan melangkah ke arahku dan menepuk kepalaku.

“Ih! Mentang-mentang tinggi.” Evan hanya tersenyum menanggapiku. Sebenarnya aku senang banget setiap kali dia menepuk kepalaku. Dulu aku selalu marah-marah tapi sekarang jauh di dalam hatiku aku senang. hehehe….

“Pinjem PR mat donk….” Evan mengulurkan tangannya kepadaku.

“Kebiasaan deh!” Aku merogoh bukuku. “Nih, awas sampe lecek ya.”n

“Oke bos!” Evan beranjak dariku kemudian menghampiri Johan.

“Cie… yang abis PDKT ni” Johan menggoda Evan.

“Apa’an sih gak gw kasi liat PRnya si Vivi ni ya.”

“Akh… jangan donk. Gw jg blm kerja ni.” Johan menggeser bukunya menyalin jawaban.

Aku duduk di tempat dudukku. Aku melihat Rena datang dan seperti biasa duduk di bangku paling belakang. Beberapa saat kemudian pelajaran dimulai seperti biasa. Hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi, pikiranku penuh dengan kata-kata Rena kemarin. Aku menoleh ke arah Evan, seperti biasa dia selalu memainkan pulpennya sambil melihat ke arah papan tulis. Tanpa sadar, akupun mengikuti gerakan tangannya sambil tersenyum sendiri. Tet3x…………Akhirnya bel istirahat berbunyi.

“Akh… laper nih. Eh ada yang mau kantin gak? bareng yuk.” Seru Evan. Seketika itu juga cewek-cewek di kelas menghampiri Evan. Aku menunduk, hatiku gundah. Bener juga, selama ini Evan populer di antara cewek-cewek. Dia orang yang easy going n enak di ajak ngobrol. Tapi aku? Nothing special kecuali otakku hahaha…. aku tertawa pada diriku sendiri.

“Woi Vi, mau ikutan gak? Sebagai balasan contekan tadi kutraktir deh” Aku menengadahkan kepalaku terkejut.

“Mau donk. Ntar aku pesen yang banyak ah……….”

“Lu mau buat gw bokek ya.” Aku tersenyum ke arahnya. Kemudian melangkahkan kakiku mengikuti anak-anak ke arah kantin

Setibanya di kantin, anak-anak kelas kami menyabotase meja dan kursi yang ada di kantin. Tentu saja kelas kami yang paling ramai. Saat itu aku melupakan kegundahanku sejenak dan tertawa lepas bersama Evan dan teman-teman. Sungguh atmosfer yang menyenangkan.

“Eh udah cerah nih, gak mendung lagi.” Ucap Rika, teman sekelasku yang suka shopping dan berteman dekat dengan Ica. Mereka berdua berteman sejak SMP dan memiliki wajah yang menarik.

“Sip… bisa shopping nih abis pulang skolah.” Ica menimpali

“Dasar cewek, seneng banget ma shopping.” Johan menggelengkan kepala.

“Ya…………. kecuali yang satu ini nih. Senengnya ma toko buku.” Evan mengacak-acak rambutku, membuat jantungku berdebar dan pipiku memerah.

“Biarin! Suka-suka donk.”Aku menepis tangannya

“Cie…. suami istri lagi bertengkar nie………” Goda Ica.

“Ih…. Siapa yang suka sama orang kayak Evan.” Elakku berlebihan dengan nada tinggi. Sesaat wajah Evan berubah terkejut. Sepertinya perkataanku terlalu kasar. Anak-anak yang lain pun terdiam dan atmosfer di antara kami berubah. Bel masuk kelas memecah keheningan di antara kami.

“Udahlah…….. jangan godain Vivi terus ntar dia nangis lagi. Lagipula Vivi bukan tipe cewekku.” Deg! Aku bukan tipe ceweknya? Setelah mengatakan itu Evan membalikkan badan dan melangkah mendahului kami.

“Ng….. udah yuk balik kelas. Ntar si botak dah nyampe di kelas duluan.” Ucap Johan mencairkan suasana dan anak-anak pun kembali seperti biasa. Aku berjalan setengah berlari mengejar Evan.

“Van sori ya. Aku gak bermaksud berbicara seperti itu.” Ia terdiam sejenak membuatku merasa bersalah.

“Udahlah gak usah dibicarain lagi, aku gak tersinggung kq cuma kaget aja ama nada suaramu.” Evan tersenyum ke arahku. Tapi apa benar dia gak marah? Aku menundukkan kepalaku. Lagi-lagi Evan mengacak rambutku, membuatku terkejut.

“Akh sori…. jadi kebiasaan ngacak2 rambutmu. hehehe….” Gak Van, gak perlu minta maaf. Karena aku gak merasa terganggu. Justru setiap kali kamu mengacak rambutku, aku merasakan ketenangan, aku senang.

“Iya  ni, rambutku jadi berantakan kan!”  Aku membelalakan mataku kearahnya. Hahaha apa yang kuucapkan selalu bertolak belakang dengan perasaanku.

Kami berdua terdiam, berjalan dengan lambat. Membuatku bingung harus apa. Anak-anak yang lain mendahului kami masuk kelas. “Hm………. Van. Thanks ya tadi kamu dah belain aku.”

“Belain??”

“Itu waktu kamu bilang jangan godain.”

“Gak perlu terima kasih toh aku gak belain kamu. Aku rasa akhir-akhir ini kamu suka ngelamun jd kupikir kamu pasti lagi jatuh cinta sama cowok. Aku jadi gak enak kalo cowok yang kamu suka jadi salah paham.” Aku tak bisa menanggapi perkataannya. Aku tidak suka atmosfer ini dimana Evan berbicara serius. Oh Van, tahu kah kamu bahwa cowok yang aku suka itu kamu.

“Oh ya Vi, semoga berhasil ya.” Evan tersenyum ke arahku dan mendahuluiku masuk ke dalam kelas.

Sedetik aku mematung. Cuaca yang mendung berubah menjadi cerah sekarang tapi entah mengapa aku merasakan hujan yang makin lama makin deras di dalam hatiku.

Saat ini aku tenggelam dalam pikiranku. ‘Lagian Vivi bukan tipe cewekku’, ‘Aku rasa akhir-akhir ini kamu suka ngelamun jd kupikir kamu pasti lagi jatuh cinta sama cowok’, ‘Oh ya Vi, semoga berhasil ya’ Kata-kata Evan terus terngiang di benakku. Apakah aku hanya bisa menjadi pengagum rahasianya saja? Apa aku terlalu berharap banyak? Bahkan dia mengira aku mencintai cowok lain. Hmph……… aku tertawa sedih.

Tanpa sadar bel pulang sekolah berbunyi dan satu per satu anak-anakpun pulang tapi aku masih duduk terpaku. Aku tak bisa terus menerus seperti ini, aku harus lebih ceria. Aku mengambil tasku lalu berdiri. Sesaat ketika aku menoleh ke belakang, aku terkejut. Rena masi duduk di tempat duduknya, pandanganya menerawang ke arah papan tulis.

“Gak pulang Ren?” Suaraku mengejutkannya.

“Sori aku ngelamun.” Kalau dipikir-pikir aku baru sadar, Renapun kemarin belum pulang sama sepertiku.

“Ada apa kq ngelamun? Lagi ada masalah?” Aku mendekatinya tapi ia hanya menjawabku dengan tersenyum kecil. Akupun terdiam.

“Hanya teringat masa lalu. Kurasa kamu yang lagi punya masalah karena g bisa jujur sama perasaanmu sendiri.” Ia tersenyum lagi kali ini lebih lebar.

“Ayo pulang, tinggal kita berdua nih seperti kemarin.” Kamipun meninggalkan ruangan kelas menuju ke arah rumah kami masing-masing.

Aku gak tahu hari esok. Apakah akan cerah atau mendung. Aku juga gak tahu harus bersikap seperti apa besok di depan Evan. Yang aku tahu, aku gak bisa terus menerus melankolis seperti ini. Aku harus bisa ceria seperti biasa di depannya. Ke arah mana cintaku berjalan, biarlah menjadi misteri……….. biarlah aku menikmati perasaan yang kupunya saat ini. Setiap detiknya biar kukenang di dalam memoriku.

Chapter 2 The End

Chapter 1. Cinta yang Tertahan

Thursday, September 17th, 2009

Sigh…. aku menghela napasku panjang.  Melihat ke arah halaman sekolah dari tempat dudukku.

“Woi ngapain  ngelamun, gak pulang?” Rena memukul kepalaku dengan bukunya.

“Sakit tau.” Aku membalasnya.

“Ada apa’an sih? Tumben banget  ngelamun. Ngelamunin apa y?cowok??Lagi ada yang km taksir ya?” Rena mengintrogasiku seakan-akan ia tahu. Kenapa sih Rena seperti bisa membaca pikiranku?

“Apa’an sih.” Aku mengelak namun mukaku berubah menjadi merah.

“Ih… ternyata beneran ya….?? Siapa sih yang lagi kamu taksir? Cerita donk!”

“Gak mau ah… ntar kamu ngeledekin aku lagi.”

“Gak, aku gak bakalan ngeledekin… janji deh.”

“Beneran ya??” Rena mengangguk meyakinkanku.

“Itu… Ng… Gak tau sejak kapan… aku jadi suka sama… si Evan” Ucapku malu-malu. Sekilas Rena tampak terkejut lalu tertawa. Aku memonyongkan bibirku merajuk….

“Katanya gak bakalan ngeledekin, malu tau!” Rena berusaha mati-matian menahan tawanya.

“Ya, sori, sori… abis aku gak nyangka aja kl kamu jadi beneran suka sama dia. Apa sih yang menarik dari dia??”

” Hm…Apa ya? Selama ini kita selalu di jodoh-jodohin ma temen-temen n aku gak pernah nanggepin. Tapi semakin deket ma dia, semakin aku tau pribadi dia. Dan tanpa aku sadarin, aku selalu memperhatikan dia yang sedang tertawa lepas dengan anak-anak lainnya. Dia selalu tersenyum dan ramah kepada setiap orang.” Aku menceritakannya berbunga-bunga membuat pipiku yang temben menggembung. Rena tertawa lagi, kali ini lebih keras membuat mukaku bertambah merah.

“Sori, sori abis  dulu bilangnya gak bakalan seneng sama org kayak si Evan sih. Eh, taunya kena deh.” Aku memonyongkan bibirku lagi kali ini lebih maju 5cm.

“Trus km ngapain Vi duduk di bangku itu? Anak-anak dah pada pulang dari tadi.” Sesaat setelah Rena menanyakan hal itu padaku, mataku berbinar. Rena mengikuti arah mataku berjalan dan berhenti tepat di depan sosok yang kukagumi.

“Kamu bisa liat kan Na, ini tempat VIP. Dari sini aku bisa memandang Evan sepuasku tanpa perlu berdesak-desakan sama fans2nya Evan.”

Aku berbicara kepada Rena tanpa mengalihkan pandangan mataku, melihat Evan yang sedang bermain basket di lapangan. Sinar matahari yang menerpanya, menjadikannya lebih berkilau dan kucuran keringatnya, menjadikannya terlihat macho dan keren. Caranya menyibakkan rambutnya saat ini membuatku berhenti bernapas sejenak. Uah…. keren banget.

“Kamu pengecut.” Rena membuyarkan lamunanku seketika. Saat itu Rena memandangku dengan tatapannya yang aneh. Aku sangat terkejut.

“Maksud kamu apa Na??”

“Kamu bilang itu tempat VIP?” Rena tersenyum sinis membuatku bergidik. “Sebenarnya itu pelarian kamu aja…” Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Yang sebenarnya adalah kamu takut orang lain tau kalo kamu suka sama Evan bahkan untuk memandangnya dengan terkagum seperti tadi gak bisa kamu lakukan dari dekat seperti cewek2 cheers itu. Selamanya kamu hanya bisa mengaguminya dari belakang.”

Rena mengatakan hal itu dengan nada tinggi dan berangsur-angsur menjadi lemah kemudian pandangan matanya menerawang.  Membuatku terhenyak, memikirkan kata-kata itu berulang-ulang. Ia benar… selamanya aku hanya akan jadi pengagum Evan dari belakang. Aku tersenyum kecut.

“Vi kamu harus lebih agresif. Kalo perlu kamu nyatain perasaanmu ketika dia memberi sinyal.”Rena menyemangatiku. Aku hanya tersenyum kecil.

“Gak Na. Aku udah cukup senang kq jadi teman dekatnya dan aku gak mau ngerusak hubungan kita selama ini. Berada di dekatnya aja, aku sudah cukup senang saat ini.” Aku menunduk menyembunyikan mukaku, entah seperti apa ekspresiku saat ini.

“Na… mumpung kita masi kelas 2 SMU masi ada kesempatan. Jangan buang2 kesempatan itu atau kamu akan menyesal.” Rena membalikkan punggungnya sambil mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang berat kemudian melangkah pergi meninggalkanku yang masih berkutat dengan pikiranku.

Masih kelas 2 SMU ya. Hmph…. aku tertawa hambar. Semester 2 akan berakhir 2 bulan lagi. Aku berharap kelas 3 nanti aku akan sekelas lagi dengan Evan. Aku berdiri dari tempat dudukku dan melangkah keluar kelas. Aku harus bisa menyembunyikan perasaanku ini. Tidak ada yang boleh tau perasaanku selain Rena ya….. tidak ada. Untuk terakhir kalinya aku melihat ke arah Evan sekilas, sebelum akhirnya aku pulang ke rumah. Sampai jumpa lagi besok Evan………. I Love U

Chapter 1 The End